本站提供正體中文版。切換到正體中文本站提供简体中文版。切换到简体中文This site is available in English.View in Englishこのサイトには日本語版があります。日本語で表示이 사이트는 한국어로도 제공됩니다.한국어로 보기Diese Website ist auch auf Deutsch verfügbar.Auf Deutsch ansehenEste sitio web también está disponible en español.Ver en españolQuesto sito è disponibile anche in italiano.Visualizza in italianoCe site est également disponible en français.Afficher en françaisEste site também está disponível em português.Ver em portuguêsDeze website is ook beschikbaar in het Nederlands.In het Nederlands bekijkenЭтот сайт также доступен на русском языке.Смотреть на русскомयह वेबसाइट हिन्दी में भी उपलब्ध है।हिन्दी में देखेंهذا الموقع متاح أيضًا باللغة العربية.عرض بالعربيةBu site Türkçe olarak da mevcut.Türkçe görüntüleTa strona jest dostępna także po polsku.Wyświetl po polskuTrang web này cũng có phiên bản tiếng Việt.Xem bằng tiếng Việtاین وب‌سایت به فارسی هم در دسترس است.مشاهده به فارسی

Seleksi citra: bagaimana memilih dengan tepat antara Blink dan SubframeSelector

Prapemrosesan dan stacking2020.12

Setelah memotret semalam suntuk, puluhan hingga ratusan light frame tergeletak di dalam hard disk, dan persoalan pertama yang harus Anda hadapi berikutnya adalah: mana yang harus disimpan, mana yang harus dibuang? Di dalam PixInsight ada dua jalan yang bisa ditempuh untuk urusan ini — satu jalan mengandalkan Blink dan menilai dengan mata sendiri, satu jalan lagi mengandalkan SubframeSelector (selanjutnya disingkat SS) agar perangkat lunaklah yang mengukur dan memberi nilai untuk Anda. Tulisan ini merangkum beberapa pengalaman saya selama beberapa tahun terakhir tentang seleksi citra, membicarakan posisi masing-masing dari kedua perkakas ini, serta pilihan yang benar-benar saya ambil.

Pemula: percayai dulu mata dan otak Anda sendiri

Banyak orang sejak awal sudah buru-buru beralih ke SS, membentangkan angka-angka seperti FWHM, SNRWeight, dan Noise dari tiap citra untuk dipelajari. Tetapi kalau jumlah frame Anda tidak banyak (misalnya di bawah 50 sampai 100 frame), sejujurnya SS belum tentu banyak gunanya, dan menyapunya sekali dengan cepat memakai Blink justru lebih singkat.

Yang lebih penting lagi, di antara nilai-nilai terukur ini tidak ada hubungan yang niscaya. Kecuali angkanya benar-benar keterlaluan — misalnya seluruh bidang gambar sama sekali tidak ada bintangnya — melihat angka semata tidak akan lebih dapat diandalkan daripada menilai dengan mata, dan belum tentu juga lebih cepat.

Tabel pengukuran dan grafik FWHM pada SubframeSelector, memuat nilai FWHM, Eccentricity, SNR Weight, dan lainnya dari tiap citra (pada contoh ini hanya 18 frame)

Saya sering mengangkat satu contoh: dulu ada seorang rekan penghobi yang bertanya kepada saya soal menyortir frame dengan SS. Saran saya kepada pemula selalu sama, yaitu sebaiknya mulailah dengan Blink yang dipadukan dengan mata dan otak Anda sendiri untuk menilai. Apa yang bisa dilakukan SS, hampir semuanya bisa dilakukan oleh mata ditambah otak, lagi pula di dalam SS sebenarnya tersembunyi beberapa jebakan yang justru bisa membuat kualitas foto salah dinilai.

Yang paling khas adalah keadaan “SNR-nya lebih tinggi, tetapi kualitas fotonya justru buruk”. Penyebab yang lazim adalah adanya awan tipis yang membuat jumlah bintang berkurang, sehingga angka SNR terdongkrak naik, padahal frame ini sebenarnya tidak bisa dipakai. Keadaan semacam ini masih harus dipadukan dengan variabel lain agar bisa dinilai dengan benar; tetapi kalau diganti dengan otak manusia ditambah mata, sering kali dalam satu detik sudah terlihat bahwa kualitas frame ini tidak baik.

Jadi, percayailah dulu otak dan mata Anda sendiri, dan tengoklah baik-baik foto-foto yang Anda potret sendiri.

Blink dan SubframeSelector dibuka bersamaan di PixInsight, memperagakan pemeriksaan kualitas citra satu per satu dengan mata telanjang memakai Blink

Pada gerbang Blink ini, ada beberapa jenis citra yang begitu saya lihat langsung saya coret, tanpa perlu ragu lagi:

  1. Terhalang roda filter
  2. Trailing bintang yang parah
  3. Trailing yang lebih parah lagi
  4. Fokus yang meleset parah (muncul lubang hitam di tengah bintang)
  5. Tertutup awan sampai benda langitnya nyaris tak terlihat
  6. Atap observatorium ikut terpotret

Contoh beberapa jenis citra bermasalah yang langsung disingkirkan pada tahap Blink

Ada lagi satu jenis yang lebih pelik dan belum disebut di atas: citra yang dipotret dengan bukaan besar dan sekaligus terpengaruh awan tipis di ketinggian. Kerepotan citra semacam ini terletak pada kenyataan bahwa masalahnya biasanya baru ketahuan setelah integrasi selesai dan RGB digabungkan — bintangnya akan mengembang dan kabur. Jika di dalam satu batch citra jumlah citra yang normal ternyata tidak lebih banyak daripada citra yang terpengaruh awan tinggi, maka citra-citra dengan bintang yang membaur ini hanya bisa disingkirkan, lalu dipotret ulang.

Contoh citra yang dipotret dengan bukaan besar, terpengaruh awan tipis di ketinggian, dengan bintang yang membaur

Posisi SubframeSelector: kuantifikasi dan pembobotan

Kalau begitu, apakah SS jadi tidak berguna? Tentu saja tidak. Fungsi dasar SS adalah mengubah bobot setiap citra menurut kondisi yang ditetapkan atau berdasarkan nilai terukur, lalu mengeluarkannya. Dengan kata lain, nilai sejatinya bukan terletak pada “memilihkan satu dari dua untuk disingkirkan bagi Anda”, melainkan pada “memberi bobot yang berbeda-beda kepada setiap citra yang pada dasarnya layak”, sehingga citra-citra itu ikut serta dalam integrasi dengan derajat sumbangan yang berbeda-beda.

Parameter yang bisa diperiksa SS tidak sedikit. Sebagai contoh, jika Anda ingin menilai berdasarkan bentuk bintang, Anda bisa merujuk pada parameter eccentricity (eksentrisitas bintang). Yang diukurnya adalah seberapa besar kontur bintang terdeformasi: untuk sebuah kontur bintang berbentuk elips, misalkan diameter sumbu panjangnya a dan diameter sumbu pendeknya b (dengan a lebih besar dari atau sama dengan b), maka eksentrisitasnya sama dengan akar kuadrat dari (1 − b² / a²), sedangkan rasio panjang terhadap lebar bintang sama dengan b / a. Makin dekat eksentrisitas ke 0, makin bulat bintangnya; makin dekat ke 1, makin terulur memanjang.

Tampilan penggunaan SubframeSelector yang memeriksa citra dengan urutan berdasarkan kebulatan bintang

Dalam praktiknya, saya mengurutkan citra yang diperiksa berdasarkan kebulatan bintang, lalu kembali ke Blink untuk memastikan sebenarnya apa yang terjadi pada citra-citra yang kebulatannya lebih rendah itu — tentu saja masih ada parameter lain yang bisa dijadikan rujukan sekaligus.

Cara saya sekarang

Sejujurnya, selain gerbang Blink yang masih saya lihat sendiri dengan mata, hampir semua sisa pekerjaan penilaian sudah saya lemparkan kepada komputer. Memperagakan SS di dalam artikel lebih mirip upaya agar semua orang memahami logika kerjanya; saat benar-benar turun ke lapangan, saya membiarkan komputer memberi bobot pada citra secara otomatis dengan memadukan berbagai parameter, lalu menyertainya dengan algoritme pixel rejection dan parameter yang sesuai untuk melakukan integrasi.

Tujuan berbuat demikian adalah agar setiap citra yang pada dasarnya layak ikut serta dalam integrasi dengan bobot yang tepat, menyumbangkan bagian yang memang harus disumbangkannya, sehingga citra yang dipotret dan total waktu eksposur yang terkumpul menjadi optimal, dan SNR citra benda langit terangkat setinggi mungkin.

Jadi keseluruhan alurnya bisa dipahami begini: Blink (mata menjaga gerbang, menyingkirkan frame buangan) → diserahkan kepada komputer untuk dikuantifikasi dan diberi bobot → integrasi. Mata menangani hal-hal yang bisa dinilai dalam satu detik, komputer menangani hal-hal yang bobotnya perlu dihitung secara cermat, masing-masing menjalankan tugasnya sendiri.