本站提供正體中文版。切換到正體中文本站提供简体中文版。切换到简体中文This site is available in English.View in Englishこのサイトには日本語版があります。日本語で表示이 사이트는 한국어로도 제공됩니다.한국어로 보기Diese Website ist auch auf Deutsch verfügbar.Auf Deutsch ansehenEste sitio web también está disponible en español.Ver en españolQuesto sito è disponibile anche in italiano.Visualizza in italianoCe site est également disponible en français.Afficher en françaisEste site também está disponível em português.Ver em portuguêsDeze website is ook beschikbaar in het Nederlands.In het Nederlands bekijkenЭтот сайт также доступен на русском языке.Смотреть на русскомयह वेबसाइट हिन्दी में भी उपलब्ध है।हिन्दी में देखेंهذا الموقع متاح أيضًا باللغة العربية.عرض بالعربيةBu site Türkçe olarak da mevcut.Türkçe görüntüleTa strona jest dostępna także po polsku.Wyświetl po polskuTrang web này cũng có phiên bản tiếng Việt.Xem bằng tiếng Việtاین وب‌سایت به فارسی هم در دسترس است.مشاهده به فارسی

Sebuah mimpi buruk: si pencuci sayur, si penanam sayur, dan sang koki di sebuah restoran

Kehidupan2014.12

Kemarin saya bermimpi, dan setelah bangun rasanya antara kesal dan geli — sebuah mimpi buruk yang tulen. Baiklah, saya catat saja apa adanya.

Pindah ke restoran lain

Di dalam mimpi itu, restoran yang setiap hari saya datangi bangkrut, jadi saya beralih makan ke sebuah restoran di dekat situ yang katanya kelas atas.

Begitu melangkah masuk, barulah saya sadar bahwa yang menyambut saya adalah si pencuci sayur. Si pencuci sayur memberi tahu saya bahwa mereka punya koki yang bisa memasak hidangan yang lezat. Karena percaya pada profesionalisme restoran itu, saya memesan satu hidangan lebih dulu untuk dicoba.

Ternyata hidangan itu rasanya kurang enak, dan perut saya pun jadi kurang nyaman. Namun demi kesopanan, saat itu saya tidak mengeluh kepada si pencuci sayur yang melayani saya, melainkan berjalan sendiri ke dapur untuk melihat-lihat.

Kebenarannya baru terungkap di dapur

Sesampainya di dapur, barulah ketahuan bahwa yang disebut “koki” yang sedang memasak itu ternyata bukan koki sungguhan, melainkan si penanam sayur.

Sementara itu, sayur-sayur di atas meja yang belum masuk wajan kelihatannya kualitasnya lumayan juga. Maka saya bilang kepada si penanam sayur itu untuk sedikit mengubah urutan memasaknya, supaya masakannya jadi lebih OK. Si penanam sayur setengah percaya setengah ragu, lalu menuruti kata-kata saya dan membuat satu hidangan lagi.

Setelah saya makan, rasanya baru sekadar bisa ditelan; tetapi sejujurnya, kualitas hidangan ini masih belum setara dengan harga yang tertera di menu.

Sebuah percakapan yang membuat tertawa sekaligus menangis

Setelah menghabiskan hidangan kedua, saya berkata kepada si pencuci sayur yang bertugas melayani: kalau begitu, ke depannya saya beli saja langsung sayur yang ditanam oleh si penanam sayur.

Tak disangka si pencuci sayur mendengar itu jadi kurang senang, dan membalas saya: justru karena sayalah yang mengajari si penanam sayur cara memasak, makanya masakannya tidak cocok dengan selera saya, dan malah membuat perut saya tidak enak. Ia menyarankan agar saya percaya pada yang profesional: datang saja beberapa kali sehari untuk makan masakan si penanam sayur, pasti lama-lama akan terbiasa.

Kalau tidak, katanya, saya juga bisa pergi ke restoran yang dibuka oleh guru si penanam sayur — di sanalah si penanam sayur belajar cara menanam sayur. Hanya saja restoran itu agak jauh, sekitar satu sampai dua jam perjalanan dengan mobil.

Saya bilang, saya tidak mungkin menempuh jarak sejauh itu setiap kali hendak makan. Tetapi si penanam sayur malah menjawab: mau bagaimana lagi, kalau ingin makan yang enak selalu ada pengorbanannya. Saya bertanya kepadanya, bagaimana keahlian koki di restoran itu? Ia justru bilang tidak tahu, pergi saja sendiri nanti Anda akan mengerti.

Lalu saya pun terbangun

Akhirnya saya memantapkan hati: kalau sayur yang belum dimasak tidak mau dijual kepada saya, sedangkan masakan yang sudah jadi pun tidak begitu bisa dimakan, ya sudah, ganti restoran saja sekalian.

Saat itulah si pencuci sayur yang bertugas melayani angkat bicara lagi, katanya: sebenarnya, sekitar lima menit perjalanan dengan mobil dari sini masih ada satu restoran lagi, dibuka oleh teman guru si penanam sayur, boleh dicoba, mereka bekerja sama dengan para petani…

Lalu, saya pun terbangun.

Sungguh sebuah mimpi buruk.