本站提供正體中文版。切換到正體中文本站提供简体中文版。切换到简体中文This site is available in English.View in Englishこのサイトには日本語版があります。日本語で表示이 사이트는 한국어로도 제공됩니다.한국어로 보기Diese Website ist auch auf Deutsch verfügbar.Auf Deutsch ansehenEste sitio web también está disponible en español.Ver en españolQuesto sito è disponibile anche in italiano.Visualizza in italianoCe site est également disponible en français.Afficher en françaisEste site também está disponível em português.Ver em portuguêsDeze website is ook beschikbaar in het Nederlands.In het Nederlands bekijkenЭтот сайт также доступен на русском языке.Смотреть на русскомयह वेबसाइट हिन्दी में भी उपलब्ध है।हिन्दी में देखेंهذا الموقع متاح أيضًا باللغة العربية.عرض بالعربيةBu site Türkçe olarak da mevcut.Türkçe görüntüleTa strona jest dostępna także po polsku.Wyświetl po polskuTrang web này cũng có phiên bản tiếng Việt.Xem bằng tiếng Việtاین وب‌سایت به فارسی هم در دسترس است.مشاهده به فارسی

Memperkuat citra kamera warna dengan filter dual-band

Stretching dan tahap nonlinear2022.05

Kamera warna (OSC) yang dipadukan dengan filter dual-band (dua pita sempit) adalah kombinasi yang sangat digemari beberapa tahun belakangan. Tetapi bintang yang terekam lewat filter itu warnanya aneh, latar belakangnya pun aneh; sementara RGB murni sering kali kurang nebulositasnya. Tulisan ini merangkum satu cara untuk “mengambil kelebihan keduanya dan saling menambal kekurangan”: memakai sinyal dari filter dual-band untuk memperkuat citra warna RGB yang asli.

Mengapa perlu saling menambal kekurangan

Mari lihat dulu satu perbandingan yang sangat gamblang. Sebagian besar citra hasil kamera warna yang beredar di internet biasanya hanya menampilkan salah satu dari dua hal berikut:

  • Kiri (tanpa filter): nebulositasnya redup, tetapi bintangnya normal.
  • Kanan (memakai filter dual-band): nebulositas merahnya lebih baik, tetapi warna bintang dan latar belakangnya aneh.

Perbandingan kelebihan dan kekurangan pemotretan citra warna tanpa filter (kiri) dan dengan filter dual-band (kanan)

Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu, sama seperti alur pikir pemrosesan kamera monokrom, mengambil kelebihan dari masing-masing citra lalu saling menambal kekurangannya barulah cara untuk menyajikan hasil terbaik — mempertahankan bintang RGB yang normal, sekaligus menambahkan nebulositas yang diperkuat filter dual-band.

Nebula: menambahkan Ha dan OIII ke RGB selangkah demi selangkah

Cara konkretnya adalah memanfaatkan sinyal Ha dan OIII dari citra filter dual-band untuk memperkuat citra warna RGB yang sudah ada. Alur ini sekaligus menyelesaikan masalah nebulositas RGB yang kurang serta masalah warna bintang yang aneh dan warna nebula yang monoton pada dual-band. Mari kita lihat lewat satu set perbandingan empat panel:

  • Kiri atas: dipotret dengan kamera warna (RGB)
  • Kanan atas: dipotret dengan tambahan filter dual-band (Ha + OIII)
  • Kiri bawah: sinyal Ha ditambahkan ke citra kiri atas (RGB + Ha)
  • Kanan bawah: sinyal OIII lalu ditambahkan ke citra kiri bawah (RGB + Ha + OIII)

Perbandingan alur penguatan empat panel: RGB, Ha+OIII, RGB+Ha, dan RGB+Ha+OIII

(Contoh ini memakai ZWO ASI 2600MC dan lensa Askar ACL 200, dengan filter dual-band Antlia ALP-T Dual Band 5nm.)

Saya pernah pula menerapkan metode “menambahkan Ha ke citra warna dengan PixelMath” yang dibagikan Chu Yi-Ching itu pada sebuah nebula gelap. Penggunaan aslinya ditujukan untuk galaksi, tetapi tampaknya sama berhasilnya bila dipakai pada nebula.

Hasil Nebula Serigala (Wolf Nebula) yang diperkuat dengan filter dual-band

Galaksi dan galaksi kerdil: sama-sama berlaku

Metode penguatan ini tidak hanya cocok untuk nebula; galaksi atau galaksi kerdil pun bisa, misalnya Awan Magellan Besar. Mari kita lihat lewat perbandingan empat panel:

  • Kiri atas: citra warna hasil pemotretan 6 jam
  • Kanan atas: citra filter dual-band hasil pemotretan 10 jam
  • Kiri bawah: RGB + Ha
  • Kanan bawah: RGB + Ha + OIII

Perbandingan penguatan Awan Magellan Besar dengan RGB, dual-band, RGB+Ha, dan RGB+Ha+OIII

Beberapa tahun terakhir juga ada filter all-in-one RGB+Ha, yang terasa cukup pas untuk memotret galaksi atau galaksi kerdil; dengan citra OSC lima setengah jam saja hasilnya sudah lumayan bagus.

Hasil pemotretan galaksi dengan filter all-in-one RGB+Ha

Detail sebagian dari citra galaksi hasil filter all-in-one

Perlu diingatkan bahwa pemotretan semacam ini juga punya kendala praktisnya masing-masing: kamera beresolusi tinggi (misalnya 60 megapiksel pada QHY 600C) menghasilkan berkas yang sangat besar, sehingga menjalankan WBPP memakan waktu tidak sedikit; sedangkan bila aberasi lensa cukup kentara (misalnya pada sebagian lensa, bintang tetap merah di satu sisi dan biru di sisi lain sekalipun ketiga kanal RGB sudah dipisah), itu pun bagian yang sulit diselamatkan oleh metode ini.